THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES
testing

Sabtu, 28 Agustus 2010

Makhluk asing dari Planet Cyrius kontak dengan Rukmini

Makhluk asing dari Planet Cyrius kontak dengan Rukmini
Rukmini (61 tahun) mengaku sering berkomunikasi dengan makhluk asing dari planet lain. Kemampuannya itu diperoleh setelah dia menekuni dunia spiritual. Siapakah sebenarnya sosok Rukmini dan bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan makhluk luar angkasa itu, wartawan tabloid Era Baru, Racmat Pudiyanto mewawancarainya di rumahnya kawasan Cilandak Dalam, Jakarta Selatan. Berikut kisahnya:
Saya dilahirkan dari keluarga spiritual dan dibesarkan di lingkungan berbagai agama. Ayah saya adalah seorang pentolan dari The George Phisical Society yang bermarkas di Adyar, Madras, India. Di Phisical Society, orang mempelajari esoteriknya agama. Sejak dahulu saya terbiasa bergaul dengan saudara-saudara yang beragama Kristen dan Islam. Saya sendiri dari gereja Katolik. Bertemu dengan saudara-saudara yang sudah haji, datang ke gereja lalu komunikasi menyapa dengan brother and sister, merupakan sesuatu hal yang indah bagiku, di mana tidak ada yang mendeskreditkan agama. Semua agama bagi saya adalah bagus, tergantung bagaimana pelaksanaannya.
Hingga usia saya sekarang 61 tahun, saya setia sebagai seorang vegetarian. Semua anggota dalam keluarga saya tidak makan daging. Semua ada lima anak. Ayah saya dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang sangat gemar membaca, koleksi bukunya ribuan. Rukmini kecil suka membersihkan koleksi buku dan menatanya. Suatu ketika saya membuka buku astrologi yang membahas mengenai “cakra”, dan ia menyukainya. Sejak saat itu, dalam usia 6 tahun, saya mulai berminat pada hal yang bernuansa spiritual. Hal yang diingatnya saat berumur 9 tahun, ayahnya bilang, “Kamu harus hidup baik, apa yang kamu lakukan di sini akan kamu alami di kehidupanmu yang akan datang. Dan apa yang kamu alami sekarang ini, itu karena hidup kamu di masa lalu, itu suatu pembelajaran.” Saya tidak mengerti hukum karma tapi pembelajaran. Kemudian saya belajar bahwa manusia itu lahir dan mati seperti yang diajarkan dalam agama. Begitu tahu itu saya tidak pernah dengki, tidak pernah iri. “Saya lihat orang kaya, oke-oke saja, itu haknya,” katanya.
Begitu lulus SMP hingga menyelesaikan SMA, saya merasa seperti ada inner voice, bahwa saya harus jalan ke spiritual nanti kalau di atas usia 40. Tuhan memberikan pilihan bebas, jadi ayahku pun tidak memaksa. Begitu lulus dari Fakultas Arsitektur, Universitas Parahyangan, Bandung, saya hijrah ke Jakarta tepat di masa Bang Ali Sadikin (gubernur DKI waktu itu) membuka proyek-proyek pembangunan dan sebagainya. Di ibukota saya sering kali dicopet. Suatu ketika saya menderita penyakit yang sebetulnya tidak tahu, memang saya mengidap migrain waktu umur 13 tahun. Setelah berkeluarga, ginjalnya sempat terinfeksi, dan anak saya juga sering sakit yang tidak diketahui gejalanya. Karena seringnya menderita sakit, saya akhirnya minta bantuan guru spiritual saya di Surabaya. Saya diminta untuk melakukan pengobatan diri sendiri dengan cara diam selama setengah jam.
Dan… saya mulai melihat (kehidupan sebelumnya) ketika masih bayi, waktu itu di Perancis dengan rambut keriting dan lain sebagainya. Saya enggak mengerti saya tanya guru saya, kok dengan pengobatan diri sendiri, saya melihat bla-bla-bla. Saya enggak tahu mengenai past life (kehidupan sebelumnya), siapa tahu dulu saya seorang algojo dan sebagainya, kalau belum siap kan orang bisa kaget. Setelahnya saya belajar meditasi, saya pernah ikut Anand Khrisna, namun sekarang tidak lagi.
Suatu saat sekitar bulan Februari atau April 2003, pada hari Minggu, pembantu saya tidak ada, saya bersih-bersih rumah sendiri, anak saya baru kegiatan “administratif” dan sedang sakit kepala. Karena baru sibuk saya tidak memperhatikan sekelilingnya. Saya baru repot, habis mandi. Mendadak dengan ekor matanya ia melihat sebuah sosok, ia melihat, sosok yang menyerupai boneka-boneka yang biasa dipakai untuk model pakaian. Bentuknya mirip orang tapi tidak kelihatan ada mata, maupun indera lainnya, hanya polos. Sosok itu pun kayak orang pakai kaus, pelontos, tidak ada rambut. Saya tanya how are you? Sudah berapa lama Anda di sini? Tiga jam jawabnya. Kamu ngapain ke sini kamu siapa, dari mana? Ia bilang dari planet Cyrius B. Planet Cyrius A dan B belum lama ditemukan. Suku Aborigin di Australia dan Afrika sudah mengetahui ada planet Cyrius. Gambar-gambar di gua Aborigin sudah ada, menggambarkan makhluk dari planet Cyrius, karena atas bimbingan humanoid, berbentuk seperti manusia, mungkin dari planet lain.
Saya bertanya lebih lanjut, “Anda ngapain di sini?” Menyebarkan unconditional love, cinta kasih tanpa pengondisian, jawabnya. “Anda di bumi sudah pergi ke mana saja?” Dia bilang sudah keempat atau lima tempat. “Anda dengan siapa saja?” Saya dengan empat teman saya, jawabnya. “Berapa lama Anda perlu?” Sebentar, katanya. Saya lihat cahaya begitu besar, karena kita lagi sibuk dengan pekerjaan di dimensi tiga ini dia menurunkan frekwensi dia supaya kita melihat.
Kemudian saya tanya, “Kamu datang dengan apa?” Dengan spaceship, di atas, jauh dari sini sekitar 15 km dari rumah ini. Saya lihat wo…, its so beautiful, its so light, mereka berupa cahaya bukan mereka yang masih punya tubuh fisik kayak kita. Tampak pesawatnya menyerupai sebuah balon besar yang sangat indah. Warnanya belum pernah dikenal di bumi, putih frosted, yang dikombinasi oleh warna hijau muda, ada gelembung hijau muda, pinkes purple, ungu nila sedikit, begitu bagus. Lalu saya tanya lagi, “Anda di Indonesia sudah pergi ke mana saja?” Dia bilang belum ke mana-mana, baru di sini saja. “Kapan Anda datang lagi?” Tomorrow. Setelah itu mereka kembali ke atas. Saya melihat ke atas lucu, tampak seperti sebuah cerita, manusia duduk di bulan dengan kaki ongkang-ongkang. Mereka duduk di pesawatnya dan tidak jelas di mana pintu masuknya.
Besoknya saya mengumpulkan teman-teman grup meditasi, saya tidak bercerita apa pun, saya ingin mereka melihat sendiri, saya tidak mau terkondisi olehnya. Ada tiga orang yang sanggup melihat sampai ke cahaya, lalu saya tanya, “Anda melihat sesuatu yang lain enggak di sini?” Ia menjawab, “Oo… banyak cahaya, ada yang belum pernah ketemu. Saya melihat pemandangan di situ.” Setelahnya mereka pergi. Di situlah kita bisa melihat kalau mereka bisa menurunkan cahayanya.
Spaceship dari alien yang jahat juga banyak, dan mestinya bukan berupa cahaya. Saya meyakini mereka pernah invasi ke bumi pada waktu kejatuhan Atlantis. Dan sekarang masih ada di bawah sungai Eufrat dan Tigris, karena itulah kawasan Timur Tengah bergolak terus. Mereka hidup dari amarah, kedengkian, kebencian, hidup dari energi itu. Sedangkan cahaya itu dari love, unconditional love. Mereka yang datang dari planet-planet dimensi kelima datang dengan spaceship. Mereka yang datang dari dimensi keempat, kelima bisa dilihat. Mereka menurunkan frekwensi baru bisa melihat. Tetapi kalau yang spesies biasa bukan mereka yang dari tingkat tinggi tapi dari dimensi kelima. Alien yang datang dari planet Cyrius adalah dari dimensi ke-12, cahaya 12. Setiap level ada tujuh, ada orang yang bilang langit ketujuh, orang Buddha mengatakan nirvana, yaitu lapisan ketujuh.
Sumber: Era Baru

0 comments: